oleh

Aku Ingin Kasih Sayang Ayah

Kasih sayang orang tua sangat penting bagi anaknya. Sudah sepatutnya orang tua menunjukkan kasih sayangnya sehingga anak tersebut merasakan bahwa mereka layak untuk  dikasihi.

“Yah, aku ingin pergi bermain di taman hiburan bersama Ayah. Ayah cepat pulang ya,” ujarku melalui panggilan suara. “Akan Ayah usahakan, untuk sementara waktu kamu pergilah bersama Nenek,” jawab Ayah dengan ciri khas suaranya yang tegas.

20 April 2019 adalah hari yang berarti bagiku, pada hari itu aku lahir dari pasangan seorang polisi dan ibu rumah tangga. Setelah Ibu meninggal dunia pada 12 Desember 2018, aku merasa telah kehilangan kasih sayang orang tua. Walaupun masih mempunyai seorang Ayah, aku merasa ia tak menyayangiku. Ayah lebih sering bekerja di luar kota. Ayah tidak pernah menghabiskan waktunya bersamaku.

Pada hari yang berarti bagiku pun, Ayah tak berada di sampingku untuk mengucapkan “Selamat ulang tahun”. Pada umur 8 tahun ini, aku iri melihat teman-temanku yang menghabiskan waktu bersama keluarga mereka, seperti makan di sebuah restoran, menonton pertunjukkan sirkus, dan pergi bermain di taman hiburan. Aku selalu mengurungkan niatku untuk mengajak Ayah ke suatu tempat, karena Ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya.

Baca Juga :   Ayahku Hebat

Matahari mulai menampakan sinarnya, burung berkicau menyambut hari yang cerah. Begitu juga denganku, membuka jendela selebar-lebarnya agar menghirup udara yang segar. Aku melihat seorang wanita yang sudah lanjut usia sedang melambaikan tangannya padaku. Tidak menduga, hari itu Nenek datang ke rumah. “Selamat ulang tahun ya, semoga kamu menjadi anak yang pintar dan dapat membanggakan orang tuamu,” ucap Nenek sambil memelukku. Aku dapat merasakan kembali kasih sayang dari orang tua yang selama ini telah hilang sejak Ibu meninggal dunia.

Nenek mengajakku pergi bermain di taman hiburan. Selama perjalanan, nenek berbagi kisah kecilnya saat bermain di taman hiburan. Aku menyimak cerita Nenek dengan seksama. Kami saling bertukar cerita yang berkesan. Berbincang-bincang, tersenyum-senyum, bahkan terbahak-bahak.

Tak terasa aku dan Nenek tiba di taman hiburan. Aku tidak sabar ingin mencoba berbagai permainan seperti yang diceritakan oleh Nenek. Aku bersenang-senang dengan bermain komidi putar, bermain ayunan, menunggang kuda, dan melukis pemandangan. Hari itu aku menghabiskan waktu bersama Nenek hingga senja. Kami pun bergegas untuk kembali ke rumah.

Baca Juga :   Ayahku Hebat

Selama di perjalanan pulang, aku berharap Ayah telah menungguku di rumah untuk mengucapkan “Selamat ulang tahun”. Namun, saat kami tiba di rumah, aku menyadari bahwa harapanku sia-sia belaka, seperti menjaring angin, terasa ada tertangkap tidak. Aku sangat sedih hingga saat ini Ayah belum mengucapkan “Selamat ulang tahun” padaku, apakah Ayah tidak mempunyai waktu untuk mengucapkan “Selamat ulang tahun” pada anaknya sendiri?

Hari berganti hari, Ayah belum juga pulang. Aku tetap menunggunya “Kamu harus sabar, mungkin banyak pekerjaan yang belum selesai. Jadi, ia belum bisa pulang,” ujar Nenek menenangkanku.

Telepon rumah pun berdering memecah kesedihanku. “Kamu bisa bantu Ayah membawakan barang-barang ini? Ayah di depan rumah,” ujar seseorang di luar sana dengan ciri khas suara yang sangat ku kenal. Tanpa menjawab apa pun, aku menuju ke depan rumah. Aku melihat seorang pria mengenakan seragam dinas khas polisi dengan wajahnya yang lelah, namun ditutupi senyuman yang lebar. “Ayaahhhhh…,” teriakku sambil menghampirinya dan memeluknya.

Baca Juga :   Ayahku Hebat

Aku membantu Ayah membawakan barang-barang ke dalam rumah. “Selamat ulang tahun. Semoga kamu menjadi anak yang saleh, pintar, dan dapat berguna bagi bangsa. Maaf, Ayah telat untuk mengucapkannya dan tidak berada di sampingmu saat kamu ulang tahun. Lihatlah Ayah membawakan sesuatu untukmu,” ujar Ayah sambil menunjukkan suatu kotak yang terbungkus rapi dengan kertas kado bergambar animasi kesukaanku, Batman. “Terima kasih, Yah,” kataku dengan penuh kegembiraan sambil memeluk Ayah.

Selama ini aku telah berburuk sangka pada Ayah, padahal di luar sana Ayah bekerja keras tanpa kenal lelah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan juga kebutuhan sekolahku.

Artikel : Salsabila Fauziah Rahman

Loading...
loading...