oleh

Ayahku Hebat

Seorang ayah pasti berusaha melakukan hal yang terbaik untuk mencukupi dan membahagiakan kehidupan keluarganya. Setiap keringat yang mengalir merupakan bukti bahwa ia selalu bekerja keras. Keluh kesah tak pernah tergambarkan dalam wajahnya, yang tampak hanyalah wajah penuh harapan terhadap keberhasilan anaknya.

Ayah merupakan seorang buruh kasar yang menjunjung tinggi pendidikan. Hal ini terbukti bahwa ia berhasil membiayai semua pendidikanku hingga menempuh pendidikan di perguruan tinggi. “Keinginan Ayah hanya satu, kamu harus mencapai pendidikanmu setinggi-tingginya,” kata Ayah ketika mengantarkanku ke sekolah, saat itu aku kelas 4 sekolah dasar.

Dalam menjalankan pekerjaannya sebagai buruh kasar, paku, palu, sekop, pasir, dan semen sudah menjadi sahabat yang selalu menemaninya. Saat Aku berumur 15 tahun, ayah mengalami kecelakaan kerja. Telapak kaki Ayah tertusuk paku yang berkarat hingga masuk ke rumah sakit.

Dokter mendiagnosis bahwa Ayah terserang tetanus akibat luka yang dialaminya. Oleh karena itu, Ayah harus mendapatkan penanganan medis yang profesional. Semakin hari tubuh Ayah semakin kurus seperti ranting pohon. Ayah tak mau makan, karena otot rahang dan leher yang kaku saat mengunyah makanan dan ditambah lagi Ayah merasa lambungnya kram. Aku sangat sedih melihatnya.

Baca Juga :   Aku Ingin Kasih Sayang Ayah

Perawat juga telah membujuk Ayah untuk makan dan minum obat hingga kesehatannya pulih kembali. Aku dan Ibu selalu sigap merawat Ayah. hingga kami tak tidur selama 2 malam untuk berjaga-jaga jika Ayah butuh sesuatu. Pekerjaan rumah tangga terbengkalai, bahkan aku mengerjakan tugas-tugas sekolah di rumah sakit.

Setelah 5 hari mendapatkan penanganan medis, kesehatan Ayah berangsur membaik hingga dokter mengizinkan Ayah untuk pulang. “Ayah, harus istirahat dulu jangan terima pekerjaan dari siapa pun,” pintaku pada Ayah saat tiba di rumah. Namun, Ayah bukan seseorang yang betah untuk berdiam diri di rumah, ia menerima tawaran tetangga untuk merenovasi rumahnya. Benar saja, otot rahang dan leher Ayah kembali kaku.

Aku dan Ibu bergegas membawa Ayah ke rumah sakit, tempat Ayah mendapatkan penanganan medis sebelumnya. Tak disangka, rumah sakit tersebut menolak Ayah, karena ruangan Instansi Gawat Darurat (IGD) telah penuh. Tanpa pikir panjang aku mencari rumah sakit lainnya. Namun, rumah sakit tersebut juga menolak, karena tidak ada fasilitas yang memadai.

Baca Juga :   Aku Ingin Kasih Sayang Ayah

Aku melihat wajah Ayah yang tampak pucat dan tarikan nafasnya mulai berat. Aku juga melihat air mata Ibu yang mulai jatuh membasahi pipinya. Aku tidak menginginkan hal buruk terjadi pada Ayah.

Aku tetap berusaha mencari rumah sakit dengan ruangan IGD yang masih tersedia serta fasilitas yang memadai. “YaaAllah, aku mohon bantuan-Mu dalam mendapatkan rumah sakit yang memadai untuk Ayah,” doaku dalam hati. Tanpa aku sadari, air mataku menetes satu per satu.

Berkat doa yang aku sematkan dalam perjalanan mencari rumah sakit, Allah  langsung mengabulkannya. Kami bergegas membawa Ayah ke rumah sakit tersebut dan dokter segera memeriksa kondisinya. Kami menunggu di luar ruang IGD dengan ditemani 2 tanaman hias di pojok lorong rumah sakit.

Baca Juga :   Aku Ingin Kasih Sayang Ayah

Tak lama, seseorang yang mengenakan kemeja berwarna biru tua dengan jas putih bersih serta tata rambut yang rapi keluar dari ruang IGD dan menjelaskan pada kami bahwa Ayah telah meninggal dunia 15 menit yang lalu. “Virus tetanus yang menyerang Bapak Abdullah telah menyebabkan saluran pernapasan tidak berfungsi dengan baik,” penjelasan lanjut dari dokter tersebut.

Saat itu juga tangis kami memecah keheningan lorong rumah sakit. Aku berusaha menahan tangisku agar tidak berlebihan dan mencoba menguatkan Ibu yang kini menjadi orang tua tunggal bagiku.

13 Januari 2018, adalah hari terakhir aku dan Ibu melihat Ayah. Aku kagum pada Ayah yang telah membiayai semua pendidikanku dari hasil jerih payahnya sebagai seorang buruh kasar. Aku berjanji pada diri sendiri untuk belajar dengan giat hingga menempuh pendidikan setinggi-tingginya serta mewujudkan semua keinginan Ayah dan Ibu.

 

Artikel : Salsabila Fauziah Rahman

Loading...
loading...