oleh

DPR RI Sayangkan BMKG Kurang Anggaran

Jakarta – Wakil Ketua Komisi V DPR RI Sigit Sosiantomo menyayangkan backlog atau potensi kekurangan anggaran Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tahun Anggaran (TA) 2020 sebesar Rp1,82 triliun.

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menilai, pemotongan anggaran tersebut akan memengaruhi kinerja BMKG dalam memprediksi dan memberikan sistem peringatan dini (early warning system) kepada masyarakat.

“Jumlah tersebut sangat tidak pas, karena akan memengaruhi keberhasilan BMKG dalam menyampaikan informasi yang berkaitan dengan cuaca dan peringatan dini,” kata Sigit, usai memimpin Rapat Dengar Pendapat Komisi V DPR RI dengan jajaran BMKG, Basarnas dan BPWS terkait Rencana Kerja Anggaran dan Rencana Kerja Pemerintah Tahun Anggaran 2020 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (13/6/2019).

Baca Juga :   HUT Ke-72, TNI Kerahkan Seluruh Kekuatan Alutsista

Untuk diketahui, pada tahun anggaran 2020, BMKG mendapatkan alokasi pagu indikatif sebesar Rp2,04 triliun, sementara pagu kebutuhannya sebesar Rp3,86 triliun dengan rincian belanja operasional Rp898,5 miliar dan Belanja Non Operasional Rp2,962 triliun untuk memenuhi pemeliharaan peralatan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (MKG), serta belanja barang dan modal prioritas MKG di 191 Unit Pelaksana Teknis (UPT).

Sigit menuturkan, backlog anggaran itu akan melemahkan BMKG dalam melakukan mitigasi bencana. Sebab, 30 persen peralatan pengamatan BMKG tidak dapat dipelihara dan dikalibrasi. “Bagaimana ini ada alat tetapi tidak bisa dirawat dan dikalibrasi,” ujarnya.

Kendati demikian, ia mengatakan Komisi V DPR RI akan tetap memperjuangkan kekurangan anggaran salah satu lembaga kebencanaan itu melalui ruang fiskal dalam RAPBN TA 2020. Ia juga berharap, pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan dapat memberikan dukungan dengan tidak memangkas anggaran BMKG.

Baca Juga :   Politikus PKS Anggap Kehadiran Maskapai Asing Tambah Masalah

“Menurut saya masih ada ruang di APBN, karena beberapa asumsi makro dalam RAPBN 2020 masih belum finish, seperti nilai tukar rupiah dan lifting minyak. Sehingga masih ada ruang fiskal yang bisa kita dapatkan,” ungkapnya.

Dia katakan, BMKG memiliki peranan penting yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat luas. Selain memprediksi dan mitigasi bencana, ujarnya, informasi ramalan cuaca BMKG dapat dimanfaatkan untuk penyuluh perikanan serta petani untuk memperkirakan masa tanam dan masa panen dengan akurat.

Loading...

Komentar