oleh

DPR Evaluasi Penyebab Kematian Petugas KPPS

Semarang – Anggota Komisi II DPR RI Abdul Hakam Naja menyatakan, angka kematian petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) pada Pemilu 2019 naik empat kali lipat dibandingkan dengan Pemilu 2014.

Fakta tersebut menurut Hakam, perlu dievaluasi secara komprehensif, sehingga diketahui penyebab dari tingginya angka kematian. Dikabarkan, petugas Pemilu yang meninggal pada Pemilu 2019 lalu hampir 600 orang.

Loading...

“Petugas yang meninggal naik empat kali lipat dibandingkan pada Pemilu 2014. Tentu DPR sebagai pembuat undang-undang ingin melihat ini lebih komprehensif, kami harus melakukan evaluasi penyebab banyak petugas yang meninggal ini. Apakah dari riwayat kesehatannya, atau karena bebannya terlalu berat, atau karena tekanan mental yang begitu besar, karena ada dua event besar, Pileg dan Pilpres,” kata Hakam, usai pertemuan dengan Bawaslu, KPU dan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (9/7/2019).

Baca Juga :   Ketua MPR dan Ketua DPR Sepakat Menjadi Caleg DPD Hak Konstitusional Warga Negara

Menurut Hakam, insiden ini akan menjadi bahan evaluasi DPR dalam menyusun UU, apakah Pemilu yang meliputi Pileg dan Pilpres akan tetap digabung atau dipisah, karena ini juga merupakan keputusan dari Mahkamah Konstitusi (MK). Hakam meminta laporan terkait hal tersebut dari berbagai daerah dan akan dievaluasi secara nasional, agar Pemilu ke depan lebih baik dan tidak lagi mengalami problem yang sama dengan Pemilu 2019.

Selain itu, politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini juga membahas tentang Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) milik KPU yang tidak tuntas dan tidak ada penyelesaian yang komprehensif. Menurutnya. Situng itu bisa jadi modal dasar pemanfaatan teknologi informasi, karena dinilai jika menggunakan teknologi akan bisa lebih baik lagi.

Baca Juga :   Di Komite I DPD RI, Ketua DPRD Sumut Bilang UU Pemda Hambat Pemekaran Daerah

“Ini sekarang malah mengandalkan manual, tapi sistem penghitungan secara elektroniknya belum selesai. Ini jadi menimbulkan pertanyaan terhadap integritas sistemnya. Padahal kami berharap dengan Situng ini bagus, maka pemanfaatan teknologi ke depan akan bisa lebih singkat. Ke depannya kita akan terus berusaha mengoptimalkan pemanfaatan teknologi untuk digunakan dalam Pemilu ini. Pengalaman kemarin, Situngnya lebih buruk dari 2004, kami harap ke depannya bisa diperbaiki lagi,” pungkas Hakam.