oleh

Bimtek Teknis Izin Usaha Memantik Investor di Crossborder Kepri

Batam – Kegiatan usaha pemanfaatan lingkungan wisata alam pada kawasan hutan produksi masih relatif baru. Perlu peran pemerintah untuk membimbing calon investor. Karenanya, Kemenpar menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Izin Usaha Penyedia Sarana Wisata Alam di Kawasan Hutan Produksi. Kegiatan berlangsung di Swiss-Belhotel Harbour Bay Batam, Kamis (22/8).

Sejumlah narasumber dihadirkan, antara lain Kasubdit Usaha Jasa Lingkungan, Kementerian LHK Wahyu Nurhidayat; Asisten Perekonomian dan Pembangunan Pemprov Kepri Syamsul Bahrum; Kepala Satuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Unit II Batam Lamhot M Sinaga; dan Kepala Dinas Pariwisata Kepri Boeralimar. Selanjutnya ada PEH Muda pada Seksi Usaha Jasa Lingkungan II Kementerian LHK Iid Rohid; dan Kasie. Pelayanan Non Perizinan pada Bidang Penyelenggaraan Pelayanan Non Perizinan) Erwin.

Baca Juga :   Tamu Spesial Ini Membuat Menpar Terharu

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Ekowisata (TPPE) Kemenpar David Makes mengatakan, kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman para stakeholder terkait. Khususnya mengenai perizinan Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam di Hutan Produksi.

“Adapun tujuannya adalah memfasilitasi stakeholder terkait untuk memahami proses perizinan pemanfaatan usaha jasa lingkungan wisata alam, terutama pada kawasan hutan produksi,” ujarnya.

Menurutnya, kawasan hutan produksi Kepulauan Riau menjadi salah satu pengembangan wisata alam paling pesat. Ini karena letaknya yang strategis, dimana Kepri berbatasan langsung dengan 3 negara. Yaitu Singapore, Malaysia, dan Vietnam.

Asdep Pengembangan Wisata Alam dan Buatan Kemenpar Alexander Reyaan menjelaskan, sebagai daerah kepulauan, 96 wilayah Kepri adalah lautan. Namun demikian, Kepri memiliki keunggulan di bidang kelautan dan perikanan, serta ariwisata. Azas pemanfaatan lingkungan juga turut difokuskan agar potensi pariwisata dapat terus tumbuh dan bergerak, sehingga meningkatkan ekonomi daerah.

Baca Juga :   Fitri Carlina Dipercaya Guncang Perbatasan Nanga Badau

“Pengembangan potensi wisata lingkungan, tentunya berkaitan dengan perizinan. Kami berharap pemerintah pusat melalui kementerian terkait dapat mempermudah perizinan terkait pemanfaatan hutan. Dalam hal ini kawasan hutan produksi,” jelasnya.

Secara umum, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepri semakin meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, sepanjang Januari-Juni 2019 terdapat 1.137.976 wisman yang berkunjung daerah ini.

Realisasi kunjungan wisman tersebut menempatkan Kepri di posisi kedua sebagai daerah dengan kunjungan wisman tertinggi di Indonesia, setelah Bali. Selama semester pertama tahun 2019, Bali mampu menggaet 2.305.802 kunjungan wisman.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan, Kepri menjadi salah satu daerah prioritas di sektor pariwisata. Banyak atraksi yang ditawarkan daerah ini, baik yang sudah tersohor maupun yang sedang digali. Dari sisi kunjungan wisatawan, jumlah wisman yang datang ke Kepri pun semakin meningkat.

Baca Juga :   Ya’ahowu Nias Festival 2019 Digelar untuk Jaring Wisatawan Milenial

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, sepanjang Januari-Juni 2019 terdapat 1.137.976 wisman yang berkunjung daerah ini. Realisasi kunjungan wisman tersebut menempatkan Kepri di posisi kedua sebagai daerah dengan kunjungan wisman tertinggi di Indonesia, setelah Bali.

“Tingginya kunjungan wisatawan ini sejalan dengan besarnya potensi wisata di Provinsi Kepulauan Riau. Selain itu, kita juga telah menerapkan tiga strategi untuk meningkatkan kunjungan wisman ke Kepri. Yakni Hot Deals, Travel Hub, dan Crossborder,” ungkapnya. (*)

Loading...
loading...