oleh

Darmayanti Lubis: Berkembang Pandangan Politik Hapus DPD RI

Jakarta – Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI diharapkan menjadi lembaga negara yang semakin kuat dalam memperjuangkan kepentingan daerah. Sebab kata Wakil Ketua DPD RI Profesor Darmayanti Lubis, hakikat DPD RI lahir adalah respons atas tuntutan reformasi yang menghendaki penguatan daerah untuk memperteguh persatuan NKRI.

Untuk mewujudkannya, Darmayanti berharap DPD RI harus optimal mengakomodasi aspirasi dan kepentingan daerah dalam perumusan kebijakan nasional yang berkaitan dengan daerah, percepatan dan pemerataan pembangunan daerah, sebagaimana dituangkan dalam Rencana Strategis (Renstra) DPD RI periode 2019-2024.

“Banyak persoalan di daerah yang dapat diserap menjadi aspirasi yang akan diperjuangkan secara konstitusional melalui DPD RI. Inilah sesungguhnya arti dari Renstra DPD RI sebagai panduan dan arah capaian strategis dari kerja politiknya pada periode ke depan,” ujar Darmayanti ketika menjadi narasumber dalam Orientasi Anggota DPD RI periode 2019-2024, di Hotel JW Marriot, Jakarta, Kamis (19/9/2019).

Senator Provinsi Sumatera Utara itu menjelaskan, penyusunan Renstra DPD RI didasarkan pada analisis Strength-Weakness-Opportunities-Threat (SWOT) dari DPD RI. Untuk aspek Strenght (kekuatan), DPD RI mempunyai legitimasi politik yang kuat, karena perolehan jumlah suara setiap Anggota DPD RI banyak yang mencapai hingga jutaan suara.

Baca Juga :   Senator Kepri: Sudah 15 Tahun, DPD RI Belum Ada Gaungnya

Anggota DPD RI ujarnya, juga memiliki agenda kegiatan di daerah yang dapat digunakan menjaring aspirasi yang berkembang di daerah dengan adanya dukungan dari Sekretariat Jenderal sebagai supporting system.

Sedangkan untuk Weakness (kelemahan), Darmayanti menilai peran dan fungsi DPD RI sering diposisikan seperti organisasi masyarakat atau LSM. DPD RI hanya diberikan kewenangan mengajukan usul rancangan undang-undang dan dapat ikut dalam pembahasan RUU bersama DPR RI, tetapi DPD RI tidak memiliki kewenangan dalam membentuk dan mengesahkan undang-undang.

Demikian pula dalam hal memberikan pandangan/pendapat terhadap RUU maupun pengawasan terhadap undang-undang. Menurut Darmayanti, DPD RI tidak pernah tahu bagaimana nasib dari RUU usulan DPD RI, pandangan/pendapat terhadap RUU maupun pengawasan terhadap UU setelah diserahkan ke DPR RI.

Mekanisme kerja legislasi juga dinilai Darmayanti melemahkan DPD RI. DPD RI hanya sebatas mengusulkan RUU yang sedang dibahas. Selanjutnya DPD RI tidak pernah tahu perkembangan usulan RUU tersebut. “Fakta itu menunjukkan bahwa komitmen terhadap Prolegnas yang sudah disepakati tiga lembaga DPR RI – DPD RI – Pemerintah selama ini masih kurang,” imbuhnya.

Baca Juga :   Program TMMD ke-105 Kodim 0415/Bth Dinilai Tepat Sasaran dan Sesuai Kebutuhan

Untuk aspek Opportunities (peluang), Darmayanti menjelaskan fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan DPD RI implementasinya diatur dalam UU MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3). Selain itu, DPD RI juga mempunyai kewenangan dalam fungsi anggaran. DPD RI dapat terlibat dalam pembahasan APBN yang terkait dana transfer daerah yang saat ini menjadi salah satu isu yang menjadi perhatian daerah untuk tujuan pembangunan.

Aspek Threaths (ancaman), Darmayanti Lubis menyebut mengenai perlunya penguatan kewenangan DPD RI. Darmayanti mengungkap DPD RI menemui berbagai kendala dalam melakukan amandemen UUD 1945 untuk penguatan kewenangan. “Selain itu, berkembangnya pandangan politik yang mengarah kepada upaya pelemahan bahkan penghapusan DPD RI dalam sistem ketatanegaraan Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga :   Pemindahan Ibu Kota, Politikus Golkar Sebut Menkeu "Agak Aneh"

Pandangan politik seperti itu kata Darmayanti dipicu oleh anggapan mengenai kurang efektivitas DPD RI sebagai suatu lembaga negara yang merepresentasikan kepentingan daerah. Selain itu, masih kuatnya arus kepentingan politik yang sentralistis sebagai aspek ancaman.

“Kepentingan dan pemikiran politik seharusnya berorientasi pada semangat otonomi untuk kesejahteraan daerah. Termasuk berbagai bentuk dukungan masyarakat terhadap penguatan DPD RI juga semestinya dibina sehingga melahirkan suatu pengakuan terhadap pentingnya eksistensi dan penguatan DPD RI, bukan sebaliknya,” kata dia.

Berdasarkan evaluasi kelembagaan DPD RI pada periode lalu dan potensi dan permasalahan yang dihadapi, maka visi ke depan DPD RI ujar Darmayanti, harus menjadi lembaga parlemen yang kuat dan aspiratif dalam memperjuangkan kepentingan daerah. DPD RI sebagai lembaga perwakilan daerah harus berperan aktif dalam proses pengambilan kebijakan di tingkat nasional untuk menyuarakan aspirasi masyarakat dan daerah melalui fungsi-fungsi DPD RI. “Dengan memperjuangkan aspirasi dan kesejahteraan di daerah, DPD RI justru akan semakin menguatkan keutuhan NKRI,” pungkasnya.

Loading...