oleh

Satu Tahun Gempabumi Palu, “Atlas Zona Kerentanan Likuefaksi Indonesia” Diluncurkan

Satu tahun berlalu sejak kejadian bencana gempabumi dan likuefaksi Palu-Donggala, menjadi kajian berbagai kalangan dan masih menyisakan perdebatan dalam upaya memahami mekanisme yang terjadi secara komprehensif. Upaya mitigasi di masa mendatang dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana serupa pun perlu ditingkatkan secara berkelanjutan. Salah satunya diwujudkan Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan meluncurkan “Atlas Zona Kerentanan Likuefaksi Indonesia” di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (9/10).

“Ancaman bencana di Indonesia tidak terlepas dari kondisi regional wilayahnya yang berada di atas daerah pertemuan lempeng-lempeng besar dunia yang menjadi sumber guncangan gempa akibat aktivitas tumbukan antar lempeng. Pertemuaan tiga lempeng bumi besar yaitu Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik menimbulkan potensi ancaman gempabumi sepanjang masa bagi bangsa Indonesia. Selain ancaman gempabumi, bahaya ikutannya seperti likuefaksi turut pula mendatangkan ancaman tersendiri bagi keselamatan jiwa masyarakat maupun keamanan infrastruktur,” ujar Kepala Badan Geologi, Rudy Suhendar membuka sambutannya.

Loading...

Ia menyebut, likuefaksi sebagai bahaya ikutan pasca gempabumi merupakan proses peluluhan massa tanah akibat guncangan gempa yang menyebabkan tanah kehilangan kekuatan gesernya dan berperilaku serupa fluida (cair). Peluluhan atau mencairnya massa tanah dapat mengakibatkan kerusakan bangunan yang berada di atasnya seperti bangunan miring, kerusakan pada pondasi, timbulnya retakan-retakan, hingga pada amblasnya bangunan.

Baca Juga :   Kemenag Siapkan Regulasi Turunan UU Pesantren

“Peluluhan tanah yang terjadi di Palu setahun yang lalu, turut memicu pergerakan dan deformasi tanah permukaan yang mengakibatkan perpindahan tanah permukaan, yang merusak bangunan-bangunan di permukaan dan pada akhirnya menimbulkan banyak korban jiwa,” jelas Rudy.

c-WhatsApp%20Image%202019-10-09%20at%200

Rudy menambahkan, kerentanan terhadap likuefaksi yang dimiliki suatu wilayah yang berada pada daerah rawan gempa, berjenis tanah pasir halus yang seragam dan keberadaan air tanah yang dangkal menjadi meningkat terhadap ancaman bahaya likuefaksi. Namun, di sisi lain wilayah-wilayah perkotaan cukup banyak berkembang di atas daerah-daerah dengan kondisi sebagaimana tersebut di atas seperti Kota Banda Aceh, Padang, Bengkulu, Yogyakarta, Palu, dan lainnya.

“Belajar dari pengalaman kebencanaan terbaru di Palu, Sigi dan Donggala, Bangsa Indonesia diingatkan untuk senantiasa waspada terhadap ancaman bahaya yang ada di sekitarnya baik ancaman bencana utama maupun bahaya ikutannya (collateral hazard). Di samping itu, diperlukan peningkatan upaya-upaya mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana. Upaya-upaya tersebut perlu senantiasa ditingkatkan, dipantau dan dievaluasi oleh karena ancaman bencana di Indonesia sangat besar,” pungkas Rudy.

Baca Juga :   Ketua MPR: Yang Belum Diperiksa KPK Hingga Saat Ini Hanya Pak SBY

Fenomena likuefaksi beberapa kali terjadi di Indonesia. Hingga kejadian pasca gempa di Palu-Donggala mengingatkan bangsa ini betapa informasi ancaman bahaya dan kerentanannya menjadi penting ketersediaannya baik bagi pemangku kepentingan di pusat, di daerah, bahkan bagi masyarakat umum. Sebagai upaya penyediaan informasi potensi kebencanaan bagi masyarakat dan bagi peningkatan mitigasi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi salah satu ancaman bahaya ikutan berupa likuefaksi, yang disajikan dalam “Atlas Zona Kerentanan Likuefaksi Indonesia”.

ATLAS ZONA KERENTANAN LIKUEFAKSI INDONESIA

Badan Geologi mulai melakukan penyelidikan fenomena likuifaksi sejak tahun 1990-1994 di daerah Denpasar, Maumere dan Flores. Hingga 2018, sejumlah kota besar dan daerah lain turut pula dikaji dan diselidiki potensi dan fenomena likuefaksi yang terjadi diantaranya Kota Padang, Bengkulu, Pidie Jaya, Meulaboh, Yogyakarta, Banyuwangi, Denpasar, Lombok, Maumere, Palu, dan Gorontalo.

Salah satu pelayanan publik bagi bangsa dan masyarakat Indonesia, Badan Geologi melalui Bidang Geologi Teknik di Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan melakukan penyusunan Peta Kerentanan Likuefaksi Indonesia untuk mendukung peningkatan upaya mitigasi bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana di masa mendatang. Peta tersebut disusun berdasarkan hasil-hasil penyelidikan dan pengalaman empiris para ahli di Badan Geologi dan berkolaborasi dengan ahli-ahli lainnya di lingkungan Badan Geologi.

Baca Juga :   Amandemen UUD 45, Pakar: DPD RI Jangan Banyak Bicara

Di dalam tahap awal ini, Peta Kerentanan Likuefaksi Indonesia memberikan gambaran sebaran daerah-daerah yang dinilai memiliki tingkat kerentanan tertentu. Penilaian kerentanan likuefaksi didasarkan pada tingkat kerusakan yang mungkin terjadi pada permukaan tanah relatif antara satu daerah terhadap daerah lainnya. Peta Kerentanan Likuefaksi Indonesia disusun dalam batasan wilayah provinsi.

Peta Kerentanan Likuefaksi Indonesia disusun bagi penyajian informasi berskala 1:100.000 yang masih bersifat regional. Peta ini merupakan informasi awal yang dapat dipergunakan bagi peruntukkan perencanaan penataan ruang berskala regional dan informasi awal bagi penyusunan upaya mitigasi bencana. Peruntukkan bagi perencanaan detil yang sifatnya pembangunan fisik berskala besar masih memerlukan penyelidikan rinci bagi tujuan pembangunan tersebut.

Peta Kerentanan Likuefaksi Indonesia ini masih merupakan informasi awal bagi berbagai kebutuhan yang sifatnya regional maka peta ini masih memerlukan upaya-upaya pemuktahiran dan updating data terkait. Pemuktahiran dan penambahan data terbaru akan meningkatkan kedetilan informasi yang tersaji dalam peta. Pemuktahiran peta akan dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan di masa mendatang. (esdm)