oleh

Surat Terbuka Untuk Saudaraku Iksan Tualeka

Kepada Yang Terhormat
Saudaraku Iksan Tualeka
Di
Ambon

Assalamua’alaikum Wr. Wb.

Loading...

Beta adalah salah satu anak muda Maluku yang suka terhadap perjuangan saudara memperjuangkan hak-hak kita warga Maluku.

Beta suka dengan kevokalan saudara, Beta suka dengan gaya nyetrik saudara mengkritisi pemerintah Republik ini yang tidak adil terhadap Maluku. Beta juga suka dengan gaya milenial sudara yang “kreatif”.

Sudah sejak lama Beta pengen mengirimkan surat kepada saudara. Pengen menyampaikan gejolak dalam dada ini kepada saudara. Sudah lama Beta kenal profil saudara, ketika berjuang di MDG yang saudara bentuk.

Saat beta lihat foto saudara viral dengan megang bendera “Benang Raja”, keinginan menulis surat kepada saudara menjadi-jadi. Akhirnya surat ini bisa Beta tulis ditengah Beta kesibukan.

Walaupun saudara menganggap ini berdasar perspektif atau literasi, Beta hanya mau curhat kepada saudara bukan berdasar pada perspektif dan literasi.

Sebab bagi Beta, literasi bisa tidak berdasar pada fakta dan dianggap benar bila katong hanya membaca literasi yang terbatas hingga membentuk perspektif terhadap sebuah konsep.

Sebelumnya Beta minta ampun jikalau ada kata yang menyinggung hati saudara. Mohon kiranya jangan simpan di hati.

Saudaraku Iksan,

Ketika beberapa waktu lalu beta membaca di media cetak maupun online bagaimana getolnya saudara memperjuangkan hak aktivis RMS yang menurut saudara, negara sudah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Ketika saudara merasa simpati dan prihatin kepada aktivis RMS tersebut, rasa suka yang ada seketika berubah rasa Benci, Marah, Trauma, hati beta teriris, Dendam, menyeruak dalam dada beta.

Saudara mungkin merasa ini tidak penting. Tapi begitu beta dan warga Negeri Latu ataupun juga yang lainnya yang punya sejarah kelam dengan RMS, merasa perlu mengingatkan saudara.

Saudaraku Iksan,

Rasa simpati dan prihatin saudara kepada aktivis RMS akibat siksaan yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan tangan-tangan RMS yang berlumuran darah membantai orang tua-tua kami di Negeri Latu.

Baca Juga :   Koramil Definitif Mampu Dukung Sineritas TNI dengan Rakyat

29 SEPTEMBER 1950 adalah duka kami. Setiap tanggal 29 September kami berduka. Duka dari generasi ke generasi. Duka yang dicibir oleh oleh orang Maluku sendiri ketika kami menceritakannya. KENAPA?

Tercatat sekitar 760 sekian warga Negeri Latu di habisi secara sadis di tangan RMS. Negeri kami rata dengan tanah. Hampir separuh warga Latu di bantai dengan berondongan senjata dan Bayonet.

Walaupun demikian, menurut orang tua-tua kami, jumlah itu tidak segitu. Diperkirakan mencapai 1000 lebih yang ikut tewas di hutan saat melarikan diri.

Saudara Iksan,

Di depan masjid para lelaki di suruh menggali Liang lahat dan berjejer sepuluh-sepuluh membelakangi Liang lahat yang mereka gali sendiri. Dooor…Dooor…mereka jatuh ke lubang merenggang nyawa.

Tak pandang bulu, lelaki, perempuan, anak-anak dan orang tua jompo tak luput dari muntahan timah panas dari ujung laras senapan. Bahkan saat amunisi habis di magazen, bayonet menjadi alternatif menusuk hingga darah mengalir dari laras senapan hingga ke tangan mereka.

Mayat-mayat bergelimpangan. Darah tumpah dimana-mana. Langit pagi itu berubah menjadi merah saga. Bayi-bayi menetek di susu ibunya bercampur darah. Orang tua lansia yang tak kuasa lari, terpaksa di tinggalkan, Bayi-bayi yang terbawa ke Hutan disekap mulutnya saat menangis agar tidak terdengar oleh tentara Beret, Air mata dan darah mengalir membasahi wajah dan tanah air.

Sebagian warga melarikan diri masuk ke hutan memanfaatkan salah kode tentara Beret, RMS. Salah kode antara Nusi dan Luhulima yang mengepung dari sisi Timur dan Barat.

Di hutan lebih memilukan lagi. Kelaparan melanda. Ada yang meninggal di atas batu, goa, dan semak belukar. Sebagian kecil disandera dan dipaksa memasak untuk tentara Beret. Kalau tidak mau, sebutir timah panas langsung menghantam dada. Kumpulan sebagian kecil warga Negeri Latu di Oti, menjadi saksi bisu kebiadaban RMS kepada kami.

Baca Juga :   BNN Provinsi Jateng Ungkap Peredaran Gelap Narkotika di Wilayah Kabupaten Sragen

Saudara Iksan,

Mungkin saudara pernah membaca di literasi bahwa pembantaian yang tertulis dalam sejarah terjadi salah satunya adalah di Sulawesi. Peristiwa Westerling. Tapi itu bukan sekampung. Orang-orang yang dibantai tersebut diambil dari kabupaten-kabupaten di Sulawesi. Skala pembantaian lebih besar RMS terhadap warga Negeri Latu dibandingkan Westerling.

Saudara Iksan,

Genosida di Banda oleh Jenderal J.P. Coen juga tidak sebanding dengan pembantaian RMS di Negeri Kami. Hanya 40 orang kaya di bantai di Banda yang dimasukan ke Perigi Rante. Di Latu, kuburan orang tua-tua Kami, bahkan tidak pernah kami lihat sama sekali.

Duka dan trauma kami hingga saat ini belum di rehabilitasi. Duka dan trauma yang tidak mudah hilang hanya dengan trauma healing seperti di kamp pengungsian akibat gempa.

Negara cuek. Aktivis RMS unjuk gigi menjadi hal biasa bahkan di advokasi ketika Negara mengambil langkah represif kepada mereka. Hubungan Gandong Latu dan Aboru terpaksa menjadi renggang akibat peristiwa berdarah di tahun 1950 tersebut.

DIMANA NEGARA…
DIMANA SAUDARA KAMI DI MALUKU…
MASIH KUATKAH IDEOLOGI Devide Et EMPERA?
Sepertinya begitu….

Pantas saja Maluku tidak pernah maju.
Pantas saja Maluku selalu mengemis Menteri.
Pantas saja…

Maluku lebih taat mengamalkan ayat Eropa Devide Et Empera ketimbang Kapata Kultural:

“Nunu Pari Hatu, Hatu Pari Nunu” (Bersatulah seperti Beringin Melilit Batu, atau Batu Melilit Beringin”

Pantas saja Maluku tidak Berkah….
Pantas saja…
Pantas saja…

Aktivis ternama di justru Ambon getol dan dengan bangga dengan ikat kepala merah membela aktivis RMS ini. ANOMALI SEKALI…

Saudara Iksan,

Sebenarnya Beta tersinggung bila foto yang viral saudara itu dikaitkan dengan Desa Pelau. Kenapa? bagi kami Warga Negeri Latu nama sosok ABDULLATIF LATUCONSINA terpatri kuat di ingatan para pejuang 45 dalam kepikunannya hingga ke Generasi Milenial Negeri Latu.

Baca Juga :   KPU Malteng Resmi Umumkan Pengajuan Bakal Calon Anggota DPRD

Bersama 4 temannya, di tahun 1946, diam-diam menyebrang ke Pulau Seram. Sembunyi dari bekas KNIL, yang lalu lalang. Mereka berlima memilih berlabuh di Negeri Latu dan mengabarkan bahwa Negara Republik Indonesia telah diproklamirkan.

Kedatangan beliau dengan teman-temannya di Desa Latu ini menjadi triger Pengibaran Merah Putih untuk pertama kalinya di Maluku, bulan Desember 1946.

Saudaraku Iksan,

Hingga sekarang Beta terus bertanya-tanya sendiri, Apa salah Negeri Kami dihabisi oleh RMS? Apa salah Orang Tua-Tua kami dibantai begitu sadis? Apa yang ditakuti RMS hingga Negeri Kami diratakan dengan tanah?

Apakah karena pada 15 Mei 1817, buyut Kami Ana Manawa KAKEHAN, Kapitan PATTIMURA menyerang benteng Duurstede, di Saparua? Ataukah mereka tidak suka Merah Putih di kibarkan tahun 1946 di Negeri Kami? Entahlah…

Tapi satu hal yang ingin Beta katakan kepada Saudara Iksan, juga basudara di Maluku, tinggalkan yang namanya RMS sebagai media untuk berjuang hak kita di NKRI ini.

Luka ini terlalu dalam. Darah yang mengalir ini terlalu merah hingga menembus KAIN BERANG MERAH Ksatria KAKEHAN.

Negeri kami adalah tumbal pertama kemerdekaan Indonesia, jauh sebelum para Jenderal di masukan ke lubang buaya di peristiwa G/30/S.

Ingat Saudaraku Iksan,

Jangan nodai perjuangan muliamu dengan organisasi yang ternoda dengan lumuran darah saudaranya sendiri.

Semangat yang suci dan murni Kakekmu Abdullah Latuconsina harus ada di dadamu bukan semangat dari lainnya.

Ingat! RMS bukan simbol perjuangan kolektif Masyarakat Maluku!

Tinggalkan semangat RMS dalam berjuang karena penuh dengan lumuran darah saudara mereka di tangan mereka sendiri hingga tidak ada lagi teriakan MENA MURIA.

Tapi teriakan HITI NUNU SAKU, HALA NUNU SAKU…MESSEEE…serentak dan kompak dari Maluku.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Seram, 10 Oktober 2019

Ttd

Saudaramu Ajay Patty

loading...