oleh

Tim 9 Partai Golkar Ingatkan Kondisi Rakyat Makin Sulit

Jakarta – Memasuki tahun 2020, kondisi kehidupan rakyat Indonesia makin sulit dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Indikasinya, daya beli masyarakat yang makin merosot dan kondisi ekonomi yang makin sulit. Ini antara lain sebagai akibat pertumbuhan kredit yang bakal lebih rendah dari 7 persen selama 2020.

Dalam kondisi yang sulit ini menurut Koordinator Tim 9 Partai Golkar Cyrillus Kerong, sebagian besar uang tersebut, tersedot untuk membeli Surat Utang Negara (SUN) yang bunganya lebih tinggi dari bunga deposito.

“Kondisi ini diperparah lagi dengan menggunungnya total utang luar negeri, baik pemerintah (termasuk BUMN) maupun Swasta. Total utang luar negeri sampai Januari 2020, mencapai sedikitnya Rp5.076,17 triliun. Dari jumlah ini, total utang selama Pemerintahan Presiden Joko Widodo (hingga kuartal III 2019 saja) sudah mencapai Rp2.759,92 triliun. Nilai ini naik sekitar Rp251,59 triliun dibandingkan dengan kuartal III 2018,” kata Kerong, saat menggelar konferensi pers, di Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Baca Juga :   Kemenperin Gandeng Pemda dan Industri Ciptakan SDM Kompeten

Utang sebesar itu lanjut Kerong, mulai menghadapi masalah karena melemahnya pendapatan negara sebagai akibat ekspor yang menurun dan pemasukan pajak yang tidak mencapai target. “Total ekspor selama Januari-November 2019, mencapai US$153,11 miliar, turun 7,61 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2018. Sedangkan total impor selama Januari-November 2019, mencapai US$150,34 miliar, naik 3,94 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2018. Kecuali daya beli yang merosot, kondisi masyarakat dipersulit oleh penghapusan sejumlah subsidi seperti subsidi pupuk dan gas, selain dinaikkannya iuran BPJS dan tarif tol,” ungkapnya.

Dalam kondisi yang sulit tersebut, muncul dan mewabahnya Virus Corona/Covid-19 yang bermula dari Wuhan, Republik Rakyat China (RRC). Memasuki pekan kedua Februari 2020, terdapat 1.110 korban jiwa di China akibat serangan Corona, dan 44.200 orang diketahui terjangkit virus tersebut. “Wabah Corona di China berdampak langsung pada kondisi perekonomian global, tak terkecuali Indonesia. Apalagi China merupakan sekutu dagang yang cukup karib bagi Indonesia, setidaknya dalam masa lima sampai enam tahun terakhir,” ujarnya.

Baca Juga :   Temui Presiden Jokowi di Bangkok, Presiden ADB Apresiasi Perkembangan Ekonomi Indonesia

Kondisi tak menentu dalam konteks kerja sama dagang antara Indonesia dan China masih terus terjadi, mengingat akses transportasi dari dan ke China untuk saat ini ditutup oleh otoritas Indonesia sampai batas waktu yang belum ditentukan. “Kondisi ini makin memukul kondisi perekonomian nasional karena ekspor ke China menempati porsi terbesar dari total ekspor Indonesia. Kondisi ekonomi nasional yang makin merosot ini bukan mustahil akan menjadi pemicu utama munculnya instabilitas di bidang politik dan keamanan yang pada gilirannya akan mengganggu stabilitas nasional secara keseluruhan,” kata Kerong.

Dijelaskannya, dampak psiko-ekonomi pasca wabah virus corona di China terhadap perekonomian global, khususnya di kawasan Asia tidaklah terhindarkan. Fakta-fakta persaingan dan atau perang dagang antara China dan Amerika Serikat membuat ekonomi kawasan semakin mengalami komplikasi bahkan kontraksi pasca serangan wabah Corona.

Baca Juga :   Banjir Generasi Milenial, Industri Kreatif Bisa Fenomenal

“Menyikapi dampak wabah Corona, maka pemerintah Indonesia dalam hal ini seluruh kementerian bidang ekonomi yang berada di bawah koordinasi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) sudah semestinya melakukan antisipasi yang cermat terhadap potensi menurunnya stabilitas perekonomian nasional secara esktrim. Sebab China merupakan sekutu dagang Indonesia yang berperan cukup penting dalam peta skala dan neraca perdagangan Indonesia di kawasan Asia,” pungkasnya.

Loading...