LIPUTAN.CO.ID

Nusantara

FINAL LIGA EUROPA: Marseille Merendah, Atletico Dibayangi Tradisi Juara

KILASJATENG.COM – Sorotan akhir pekan ini tertuju di Parc Olympique Lyonnais. Stadion yang menjadi markas Lyon tersebut bakal menghelat laga final Liga Europa 2017-2018, Kamis (17/5) dini hari WIB yang mempertemukan Olympique Marseille kontra Atletico Madrid.

Sebagai klub Prancis, Marseille bisa dibilang ‘beruntung’ tampil di Parc Olympique Lyonnais. Maklum saja, tim asuhan Rudi Garcia itu bisa dikatakan tampil di kandang sendiri. Publik Prancis bakal mendukung Marseille untuk bisa menggondol trofi juara.

Tampil di Parc Olympique Lyonnais bukan hal yang baru bagi Marseille. Stadion ini telah menjadi markas Lyon sejak 2016 silam. Di pentas Ligue 1, Marseille tentunya sudah terbiasa bermain di kandang Lyon tersebut. Itu menjadi keuntungan tersendiri saat menghadapi Atletico.

Hanya saja, segala keuntungan itu perlu diimbangi dengan kerja keras. Bukan apa-apa, Atletico dipayungi tradisi juara di ajang Liga Europa yang sebelumnya bernama Piala UEFA. Klub berjuluk Los Colchoneros itu sebelumnya dua kali mencapai final di ajang ini dan selalu menjadi juara.

  Walikota Hendi Aktifkan Kembali Kolam Retensi Sebagai Lahan Produktif

Pada 2009-2010, Atletico ke final dan menghadapi Fulham. Hasilnya, mereka juara setelah menang 2-1. Kemudian pada 2011-2012, Los Colchoneros juga ke final. Mereka menghadapi sesama tim Spanyol, Athletic Bilbao. Hasilnya, Atletico kembali meraih trofi setelah menang telak 3-0.

Memang, Atletico kurang beruntung saat tampil di final ajang Liga Champions. Tapi, di Liga Europa, mereka seolah ditakdirkan untuk juara. Dua kali final, dua kali juara.

Di satu sisi, Marseille boleh saja bakal didukung publik Prancis lantaran final digelar di Prancis. Namun, mereka memiliki tradisi buruk di ajang Liga Europa. Sama seperti Atletico, Marseille juga dua kali tampil di final ajang ini. Hanya, mereka selalu menelan kekalahan alias tak pernah juara.

Pada 1998-1999, Marseille berhasil ke final. Namun, mereka kalah 0-3 dari Parma. Kemudian, pada 2003-2004, untuk kedua kalinya ke final Liga Europa. Hasilnya, Marseille kembali kalah dan saat itu dikalahkan Valencia dengan skor 2-0. Valencia sendiri adalah klub dari Spanyol dan tentunya ada trauma tersendiri bagi Marseille saat menghadapi klub Spanyol di final ajang ini.

  Pemerintah Diminta Mengerti Pentingnya RUU Kepulauan

Pelatih Marseille, Rudi Garcia, mengakui bahwa meski final digelar di Prancis, markas Lyon, itu tak menjadi sebuah keuntungan bagi timnya. Dengan merendah, dia mengatakan bahwa Atletico memang lebih diunggulkan dan kans timnya dia sebut kecil.

“Peluang kami untuk juara memang tak sebesar Atletico. Mereka lebih diunggulkan lantaran tradisi mereka di ajang ini. Tapi, kami akan memberikan segalanya di atas lapangan. Menghadapi Atletico adalah sebuah momen fantastis. Saya berharap tampil di depan publik Prancis, membuat para pemain termotivasi. Kami juga ingin menjadi klub Prancis pertama yang bisa juara di ajang ini,” beber Garcia seperti dilansir Uefa.com.

Selama ini memang tak ada klub Prancis yang mampu menjuarai ajang ini. Tiga klub yang pernah ke final selalu kandas. Selain Marseille, dua klub Prancis yang mampu ke final dan kalah adalah Bastia dan Girondins de Bordeaux.

Sementara itu, meski lebih diunggulkan, Diego Simeone selaku pelatih Atletico Madrid, tak ingin para pemainnya terlena. Dia menyebut Marseille adalah tim yang sulit dikalahkan.

  Persiapan Mudik Lebaran, PT. KAI Sediakan Tambahan 7 Kereta Api

“Marseille adalah tim yang sangat berbahaya. Lini tengah dan depan mereka dipenuhi pemain berkualitas. Mereka adalah lawan yang akan menyulitkan kami di final. Saya kira, laga final nanti akan ketat,” sebut Simeone.

Marseille lolos ke final setelah menyingkirkan RB Salzburg. Sementara itu, Atletico menyingkirkan Arsenal. Ini bakal menjadi pertemuan ketiga Marseille dan Atletico di pentas Eropa. Sebelumnya kedua tim bersua di fase grup Liga Champions 2008-2009. Dalam laga kandang, Atletico menang 2-1. Sedangkan di kandang Marseille, hasil akhir imbang tanpa gol.

Seperti diketahui, Spanyol mendominasi trofi Liga Europa dalam 10 musim terakhir. Menariknya, hanya ada dua klub yang melakukannya. Selain Atletico yang meraihnya pada 2009-2010 dan 2011-2012, Sevilla melakukannya tiga kali pada 2013-2014, 2014-2015, dan 2015-2016. Kini, Atletico berpeluang untuk meneruskan dominasi Spanyol di ajang Liga Europa.

Rekor Pertemuan

– 10/12/2008 Marseille 0-0 Atletico

– 02/10/2008 Atletico 2-1 Marseille

(JPC)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!