LIPUTAN.CO.ID

Teknologi

Ketua Umum Ika ITS: Kalau Beli Teknologi Asing, Kan Ada Anu-anunya

Dwi Soetjipto

Jakarta, liputan.co.id – Pada era tahun 1980-an industri persemenan di Indonesia sudah lebih canggih di banding dengan China. Karena itu menurut mantan Direktur Utama PT (Persero) Semen Indonesia Dwi Soetjipto, telah mendeklerasikan Indonesia tidak saja sebagai negara produsen semen, tapi juga ahli dalam membangun pabrik semen.

Hal tersebut dikatakan Dwi saat membuka Focus Group Discussion (FGD), bertema “Perspektif Legislatif terhadap Kondisi Riset Nasional dan Tantangan Hilirisasi Hasil Riset”, di Media Center DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Senin (12/2), digelar oleh Pengurus Pusat Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (Ika ITS).

“Di tahun 1980-an teknologi industri persemenan di Indonesia sudah lebih canggih di banding dengan China. Sejak saat itu pula bangsa Indonesia sudah mendeklarasikan kemajuan teknologinya dengan cara menegaskan negara mana pun yang mau bangun pabrik semen, belajarlah ke Indonesia,” kata Ketua Umum Ika ITS itu.

  Bos SpaceX Siap Luncurkan Tesla Roadster ke Planet Mars Bulan Depan

Anehnya lanjut Dwi yang juga mantan Dirut PT Semen Gresik dan Semen Padang ini, sekarang muncul ‘paradigma’ baru. “Kalau mau bangun pabrik semen di Indonesia, kenapa tidak pakai teknologi semen dari China?,” kata Dwi.

Terkait dengan riset, selama 30 tahun berkarir di industri persemenan Badan Usaha Milik Negara, Dwi menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan riset terkait inovasi industri semen di Indonesia.

“Saya sudah siapkan banyak riset tentang inovasi industri semen ini. Tapi saat ini tidak dipakai karena ‘paradigma’ baru tadi, kenapa tak pakai produk China?,” kata Dwi, sembari menambahkan sudah ada tiga bidang riset teknologi persemenan nasional yang dia nilai penting dan strategis yang sudah dilakukannya sebagai upaya mengantisipasi kemajuan teknologi industri semen di dunia.

  LINE Indonesia Kembali Hadirkan Kompetisi Chat Bot di Ajang LINE CREATIVATE 2018

“Tapi hasil riset tersebut tak lagi dipakai untuk kemajuan industri semen dalam negeri karena kalau beli teknologi dari luar kan ada anu-anunya,” kata mantan Dirut PT (Persero) Pertamina itu.

Selain ada anu-anunya, Dwi juga mengungkap ada rasa takut salah dari para pelaku industri semen di Indonesia kalau menggunakan riset dan teknologi produknya sendiri.

“Paradigmanya, kalau teknologi diimpor dari Eropah atau China, itu sudah yang paling benar. Padahal metodologi risetnya sama karena ini menyangkut keabsahan sebuah penelitian yang harus dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” tegasnya.

Muara dari semua masalah ujarnya, bangsa ini akan selalu menjadi negara yang tergantung dengan negara lain. “Karena itu, diperlukan komitmen politik untuk mengawal berbagai hasil riset agar hasil riset tidak jadi kuburan,” pungkasnya.

  Telkom Perkenalkan WiFi Corner 2.0 dan WiFi Station

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!