LIPUTAN.CO.ID

Ekonomi Bisnis

Pansus RUU Pertembakauan: 5.500 Buruh Rokok Dirumahkan

Firman Soebagyo

Jakarta, liputan.co.id – Ketua Panitia Khusus (Pansus) RUU Pertembakauan DPR RI Firman Soebagyo mengatakan industri rokok dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Kondisi tersebut terungkap dalam rapat Pansus RUU Pertembakauan di Gedung DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Selasa (13/2/2018), dengan agenda mendengarkan laporan kunjungan anggota Pansus ke daerah-daerah.

“Memprihatinkan, kondisi industri rokok banyak yang mulai tutup, seperti Jambu Bol dan Sukun di Kudus, dari karyawannya 10 ribu kini tinggal 4.500 orang. Kalau tidak segera dibuat regulasi, maka dampak sosial para pekerja, petani dan industri kian berat. Pada gilirannya, penerimaan negara akan terganggu secara besar-besaran,” kata Firman, di sela-sela memimpin Rapat Pansus.

  Pansus: Ternyata Suku Bunga Program UMi Lebih Tinggi Dari KUR

Aspek lainnya lanjut dia, adalah komoditas tembakau memberi dampak perekonomian nasional berupa penerimaana negara yang cukup besar mencapai Rp100-120 triliun per tahun. Keluh kesah lain dari para pengusaha ujarnya, cukai memberatkan pelaku usaha, karena tujuan cukai untuk menekan produksi. Tetapi sekarang berbalik menjadi salah satu alternatif penerimaan negara.

“Dari penyerapan aspirasi terungkap, ketika cukai rokok naik tajam, maka tidak menutup kemungkinan penyalahgunaan cukai palsu. Ini yang harus diwaspadai,” ujar politikus Partai Golkar itu.

Dampak berikutnya kata Firman, kalau ini terus ditekan, maka industri rokok akan kolaps, dampaknya pengangguran akan meningkat dan hasil produksinya tidak akan terserap. “Di sisi lain, ada industri rokok asing yang sudah mulai menanam tembakau guna memenuhi kebutuhannya yang berkadar tar rendah,” ungkap Firman.

  Bu Susi Bilang KKP Hanya Izinkan Impor Garam 2,17 Juta Ton

Fakta lain menurut Firman, petani tambakau masih berkeluh kesah karena hasil produknya, khususnya jenis virginia di Nusa Tenggara Barat, serapannya masih sangat kecil di banding dengan menggunakan tembakau lainnya.

Gubernur NTB kata Firman, menyampaikan kepada DPR bahwa produksi sudah mencapai 40 ribu ton, tapi serapannya hanya maksimal 5 ribu ton, sehingga juga perlu diwaspadai.

“Yang juga perlu diperhatikan, adanya laporan dari pelaku usaha dan petani, bahwa varietas tembakau Indonesia juga telah dibudidayakan di luar negeri seperti di China. Juga impor terbesar sekarang ini berasal dari Turki, China dan Brasil,” imbuh Firman.

Dia tambahkan, RUU Pertembakauan jangan dilihat sisi negatif kesehatannya, tapi aspek lain juga diperhatikan. “Jika RUU ini disahkan menjadi UU, maka harus menjadi payung hukum dan kepastian semua pihak. Apalagi cukai-cukai palsu kini makin marak berkaitan dengan impor rokok ilegal yang mulai masuk Indonesia,” pungkasnya.

  Permata Bank Hadirkan PermataMobile X untuk #IndonesiaTanpaStres

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BERITA POPULER

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!